Negeriku sayang, Negeriku malang

Friday, May 20
Sungguh disayangkan disaat bangsa ini sedang memperingati hari kebangkitan nasional, kongres yang diadakan PSSI untuk menentukan ketua PSSI malah sedikit ricuh dan dihujani dengan interupsi. Sampai akhirnya ketua normalisasi PSSI agum gumelar memilih untuk mengakhirinya karena suasana kongres sudah tidak kondusif lagi. Bingung kenapa di negara kita tercinta ini banyak sekali orang yang haus kekuasaan. Padahal kalo tiap orang yang mencalonkan diri sebagai ketua itu lebih legowo dan tidak memikirkan kepentingan mereka yang sangat ingin menduduki kursi pemimpin PSSI, mungkin kongres PSSI hari ini tidak akan sampai begitu. 
Kadang gue juga heran kalo ada pemilihan ketua-ketua di indonesia. Kayanya semua kandidatnya itu ga ada yang siap buat kalah. Mereka hanya mempersiapkan diri mereka untuk menang. Hasilnya udah bisa ditebak, pasangan yang kalah pasti akan ricuh-ricuh gitu.
Belum lagi keheranan gue sama para anggota dewan terhormat kita di DPR. Gue bersyukur waktu pemilihan anggota dewan waktu itu gue memilih untuk abstain. Karena, setelah hampir dua tahun mereka dipilih yang gue lihat dari mereka itu hanyalah sekumpulan orang-orang manja yang selalu menuntut. Tapi giliran rakyat yang menuntut sesuatu dari mereka pasti ada aja alesannya. Bayangin mereka pasang budget buat bangun gedung baru DPR 777 milyar. Sedangkan untuk pengentasan kemiskinan di bali aja mereka cuma ngasih 1,68 milyar. Coba dana 777 milyar itu disebar untuk mensejahterakan rakyat indonesia. Berapa wilayah yang akan terbantu dengan dana tersebut. Dana sebesar itu bisa digunakan untuk pengentasan kemiskinan dan pendidikan di daerah pedalaman. 
Makin takjub gue sama negeri tercinta gue ini. Seandainya di pemilu presiden dan legislatif 2014 nanti gue tidak melihat ada calon yang cukup baik untuk memimpin indonesia, kayanya gue lebih memilih untuk abstain. Adakah calon pemimpin negara ini yang mempunyai sifat seperti para khulafa rasyidin? gue inget sama pelajaran gue pas SMP. Waktu itu guru gue bercerita tentang seorang khalifah yang setiap malamnya dia selalu berjalan menyusuri lorong-lorong kota untuk memastikan bahwa tidak ada rakyatnya yang hidup kekurangan. Ironis banget sama pemimpin sekarang. Mereka bahkan tidak bisa mendengar jeritan dan tangisan rakyat kecil. Mereka lebih mendengarkan suara perut mereka yang tidak pernah puas dengan apa yang mereka dapat. Mungkin mereka harus mendapat pelajaran agama tambahan agar mereka bisa lebih bersyukur dengan apa yang mereka miliki dan perlahan mereka bisa mendengar suara-suara rakyat yang meminta perhatian mereka.
SELAMAT HARI KEBANGKITAN NASIONAL





0 komentar:

Post a Comment