Mungkin tiga kata itu adalah kata-kata yang paling bisa bikin orang jakarta sedikit menyesal tinggal di jakarta. Jakarta sebagai ibukota negara merupakan kota selalu sibuk tiap harinya. Kota yang sibuk ini selalu saja macet karena semakin banyaknya kendaraan bermotor yang berseliweran di jalan-jalan ibukota. Macet ini akan semakin parah kalau hari sedang hujan. Sungguh pemandangan biasa di ibukota ini. Tapi, bagaimanapun semrawutnya keadaan jakarta saat hujan aku masih bisa menikmatinya. Seperti saat ini. Baru beberapa hari yang lalu sampai di jakarta setelah liburanku di dieng, aku sudah harus kembali lagi ke dunia realita jakarta. Aku sebagai sarjana muda harus mengucapkan "Welcome to the jungle" untuk bersaing dengan ribuan pencari kerja di ibukota ini. Tapi inilah jakarta. Semua butuh kompetisi untuk bisa bertahan di rimba jakarta yang tidak seindah kelihatannya.
Berbeda dengan dua tahun yang lalu. Dua tahun lalu aku masih seorang mahasiswa tingkat tiga disebuah perguruan tinggi swasta yang cukup ternama di jakarta. Dan aku masih bersama dengan sahabatku. Saat itu aku masih bisa tertawa di dalam di angkot saat melihat jakarta yang macet. Selama menunggu macet kami selalu membicarakan hal-hal yang seru. Hal seru itu kadang dimulai dari hal yang kedengarannya sangat sepele. Tetapi dari hal sepele itu kita bisa membicarakan hal yang sedikit agak berat seperti membicarakan politik di negeri ini. Aku teringat salah satu kejadian yang sangat menyenangkan ketika jakarta sedang macet.
Waktu itu kami sedang membicarakan salah satu artis ibukota dan keadaan di dalam angkot yang kami tumpangi hanya ada tiga orang termasuk kami berdua. Saat kami sedang asyik-asyiknya membicarakan artis tersebut tiba-tiba saja si supir angkot itu menyuruh kami untuk pindah angkot karena dia sudah tidak tahan dengan kemacetan yang ada dan memilih untuk berputar arah. Akhirnya kami turun. Pada saat sahabatku gandhi akan menaiki angkot yang lain aku menahannya.
"Gan, jangan naek angkot"
"Kenapa nan?"
"Kita jalan kaki aja, percuma naik angkot kalau macetnya kaya begini. Naik angkotnya nanti aja di depan kalu udah ga macet."
"Okeh"
Akhirnya aku pun jalan berdua di tengah kemacetan bersama gandhi. Gandhi awalnya agak sedikit tidak percaya karena aku mengajaknya untuk jalan kaki di tengan kemacetan jakarta. Karena ini adalah pertama kali baginya berjalan kaki di tengah-tengah jakarta yang macet. Jalanan yang kami lewati tidak tersedia trotoar untuk pejalan kaki. Akhirnya kami pun haru bersaing dengan pengendara motor. Tapi aku tidak kehabisan akal. Aku memanfaatkan jalan yang waktu itu sangat padat dan aku memilih untuk berjalan kaki di sela-sela mobil yang tidak bisa dimasuki oleh motor. Ini sedikit lebih amah daripada berjalan di pinggir jalan yang sudah dipenuhi dengan motor. Gandhi terlihat sangat menikmati jalan kaki di sela-sela kendaraan. Maklum, karena sebenarnya setiap hari dia menggunakan mobil. Tapi karena hari ini mobilnya masuk bengkel jadi dia harus naik angkot. Setelah berjalan cukup jauh dan sukses melewati kemacetan, kami berhenti di sebuah halte untuk menunggu angkot.
"Seru juga nan."
"Seru kan, pantesan daritadi kamu ketawa terus, kesenengan toh diajak jalan kaki di tengah-tengah mobil yang macet."
"hahahahaha, iyalah baru pertama kali jalan di tengah-tengah mobil kaya tadi."
"Anggep aja tadi abis fashion show." Aku menimpali sekenanya.
"Anggep aja tadi abis fashion show." Aku menimpali sekenanya.
Selagi menunggu angkot yang lewat, kami berdua terus saja membicarakan hal-hal menarik disekitar kami. Tak lama, butiran-butiran hujan mulai membasahi jalan di depan kami.
"Waduh, hujan gan"
"Ga apa-apa lah, biar makin seru, kamu mau hujan-hujanan?"
"Gila, udah malem gini hujan-hujanan, yang ada besok masuk angin."
"kan nanti kalo kamu ga masuk, aku ikutan ga masuk, hehe"
"dasar"
Kami berdua pun hanya menikmati hujan sambil duduk di halte. Menghirup aroma tanah saat hujan bersama sahabatku gandhi. Sahabat yang paling sahabat. Kami berdua seperti satu jiwa yang menempati tubuh berbeda.
"Apa kata yang pas buat kejadian ini nan?" Tiba-tiba gandhi bertanya padaku.
"Jakarta, macet, hujan."
"Bagus juga. Jakarta, macet, hujan."
Kembali ke masa kini, aku sendirian sekarang menatap kemacetan jakarta dari balik taksi yang ku tumpangi. Terpikir untuk mengulang itu semua."Berapa pak?"
"Tiga puluh lima ribu neng."
Aku memberikan dua lembar uangan dua puluh ribuan kepada supir taksi itu dan berjalan diantara kendaraan yang sedang macet.