Jakarta, Macet, Hujan

Tuesday, May 24 0 komentar
Mungkin tiga kata itu adalah kata-kata yang paling bisa bikin orang jakarta sedikit menyesal tinggal di jakarta. Jakarta sebagai ibukota negara merupakan kota selalu sibuk tiap harinya. Kota yang sibuk ini selalu saja macet karena semakin banyaknya kendaraan bermotor yang berseliweran di jalan-jalan ibukota. Macet ini akan semakin parah kalau hari sedang hujan. Sungguh pemandangan biasa di ibukota ini. Tapi, bagaimanapun semrawutnya keadaan jakarta saat hujan aku masih bisa menikmatinya. Seperti saat ini. Baru beberapa hari yang lalu sampai di jakarta setelah liburanku di dieng, aku sudah harus kembali lagi ke dunia realita jakarta. Aku sebagai sarjana muda harus mengucapkan "Welcome to the jungle" untuk bersaing dengan ribuan pencari kerja di ibukota ini. Tapi inilah jakarta. Semua butuh kompetisi untuk bisa bertahan di rimba jakarta yang tidak seindah kelihatannya.
Berbeda dengan dua tahun yang lalu. Dua tahun lalu aku masih seorang mahasiswa tingkat tiga disebuah perguruan tinggi swasta yang cukup ternama di jakarta. Dan aku masih bersama dengan sahabatku. Saat itu aku masih bisa tertawa di dalam di angkot saat melihat jakarta yang macet. Selama menunggu macet kami selalu membicarakan hal-hal yang seru. Hal seru itu kadang dimulai dari hal yang kedengarannya sangat sepele. Tetapi dari hal sepele itu kita bisa membicarakan hal yang sedikit agak berat seperti membicarakan politik di negeri ini. Aku teringat salah satu kejadian yang sangat menyenangkan ketika jakarta sedang macet.
Waktu itu kami sedang membicarakan salah satu artis ibukota dan keadaan di dalam angkot yang kami tumpangi hanya ada tiga orang termasuk kami berdua. Saat kami sedang asyik-asyiknya membicarakan artis tersebut tiba-tiba saja si supir angkot itu menyuruh kami untuk pindah angkot karena dia sudah tidak tahan dengan kemacetan yang ada dan memilih untuk berputar arah. Akhirnya kami turun. Pada saat sahabatku gandhi akan menaiki angkot yang lain aku menahannya.
"Gan, jangan naek angkot"
"Kenapa nan?"
"Kita jalan kaki aja, percuma naik angkot kalau macetnya kaya begini. Naik angkotnya nanti aja di depan kalu udah ga macet."
"Okeh"
Akhirnya aku pun jalan berdua di tengah kemacetan bersama gandhi. Gandhi awalnya agak sedikit tidak percaya karena aku mengajaknya untuk jalan kaki di tengan kemacetan jakarta. Karena ini adalah pertama kali baginya berjalan kaki di tengah-tengah jakarta yang macet. Jalanan yang kami lewati tidak tersedia trotoar untuk pejalan kaki. Akhirnya kami pun haru bersaing dengan pengendara motor. Tapi aku tidak kehabisan akal. Aku memanfaatkan jalan yang waktu itu sangat padat dan aku memilih untuk berjalan kaki di sela-sela mobil yang tidak bisa dimasuki oleh motor. Ini sedikit lebih amah daripada berjalan di pinggir jalan yang sudah dipenuhi dengan motor. Gandhi terlihat sangat menikmati jalan kaki di sela-sela kendaraan. Maklum, karena sebenarnya setiap hari dia menggunakan mobil. Tapi karena hari ini mobilnya masuk bengkel jadi dia harus naik angkot. Setelah berjalan cukup jauh dan sukses melewati kemacetan, kami berhenti di sebuah halte untuk menunggu angkot.
"Seru juga nan."
"Seru kan, pantesan daritadi kamu ketawa terus, kesenengan toh diajak jalan kaki di tengah-tengah mobil yang macet."
"hahahahaha, iyalah baru pertama kali jalan di tengah-tengah mobil kaya tadi."
"Anggep aja tadi abis fashion show." Aku menimpali sekenanya.
Selagi menunggu angkot yang lewat, kami berdua terus saja membicarakan hal-hal menarik disekitar kami. Tak lama, butiran-butiran hujan mulai membasahi jalan di depan kami.
"Waduh, hujan gan"
"Ga apa-apa lah, biar makin seru, kamu mau hujan-hujanan?"
"Gila, udah malem gini hujan-hujanan, yang ada besok masuk angin."
"kan nanti kalo kamu ga masuk, aku ikutan ga masuk, hehe"
"dasar"
Kami berdua pun hanya menikmati hujan sambil duduk di halte. Menghirup aroma tanah saat hujan bersama sahabatku gandhi. Sahabat yang paling sahabat. Kami berdua seperti satu jiwa yang menempati tubuh berbeda.
"Apa kata yang pas buat kejadian ini nan?" Tiba-tiba gandhi bertanya padaku.
"Jakarta, macet, hujan."
"Bagus juga. Jakarta, macet, hujan."
Kembali ke masa kini, aku sendirian sekarang menatap kemacetan jakarta dari balik taksi yang ku tumpangi. Terpikir untuk mengulang itu semua.
"Berapa pak?"
"Tiga puluh lima ribu neng."
Aku memberikan dua lembar uangan dua puluh ribuan kepada supir taksi itu dan berjalan diantara kendaraan yang sedang macet.

Awal Perjalanan

Sunday, May 22 0 komentar
Gunung sikunir pukul 05.15
Aku telah sampai di puncak ini. Beberapa hari yang lalu aku baru menyesaikan studi S1-ku dan akhirnya aku mendapatkan gelar di belakang namaku. ST. Aku sudah menggadang-gadang akan pergi ke dieng setelah aku mendapatkan gelarku. Disinilah aku berdiri sekarang. Puncak gunung sikunir yang merupakan salah satu objek wisata andalan dieng. Aku ingin menyaksikan secara langsung matahari terbit dari puncak ini yang sering dijuluki golden sunrise. Akhirnya semburat warna merah perlahan mulai menghiasi angkasa. Kehangatannya benar-benar membawa hangat di puncak ini. Dimana suhunya masih berada di kisaran 10 derajat celicius. Hal ini bukan suhu biasa untuk ukuran orang jakarta yang selalu merasa kepanasan. Akhirnya, aku bisa menyaksikan indahnya golden sunrise dari puncak ini. Betapa indahnya panorama ini. Jika saja aku seorang pelukis, aku akan langsung melukiskannya agar tidak ada satu moment pun yang terlewat. Cahaya merah muncul dari balik pegunungan yang masih dihiasi kabut. Ini seperti menemukan negeri para dewa. Negeri diatas awan.
Aku duduk terpaku melihat semua ini. Perlahan aku mengeluarkan pocket diary milikku dan menuliskan semua perasaan ini.
" Kawan apa kabarmu saat ini?
  Sekarang ini aku sedang menikmati sebuah panorama matahari terbit yang lain dari biasanya. Aku   menikmatinya dari atas puncak gunung sikunir di dieng. Jika saja aku bisa menemukanmu sebelum aku pergi kesini, aku pasti akan mengajakmu untuk turut serta menikmati semua keindahan ini. Tahukan kawan sangat merindukanmu. Aku berikan padamu gambar keindahan golden sunrise yang tersohor itu. Jika suatu saat aku berhasil menemukanmu kembali aku akan langsung memberikan pocket diary ini padamu. Di pocket diary ini aku akan selalu menulis semua perjalanan yang akan aku lalui ke depan. Pocket ini tidak hanya berisi semua tulisan tentang kerinduanku, aku juga melengkapinya dengan foto-foto tempat yang sudah aku kunjungi. Cukup dulu kawan. Aku harus turun untuk melanjutkan perjalananku selanjutnya. "
"Abis nulis apa mbak?" tanya guide yang sedari tadi melihatku menulis. Tetapi, aku tidak menyadari bahwa selama aku menulis, guide itu memperhatikanku. Aku terlalu asyik menulis. 
"Nulis tentang panorama matahari terbit tadi pak. Buat kenang-kenangan. Siapa tahu kalau saya sudah sampai jakarta, Pas saya baca lagi tulisan ini, saya jadi pengen kesini terus". Jawabku sekenanya. Karena aku benar-benar kaget dapat pertanyaan itu.
"Pasti mbak bakal balik lagi kesini. Saya aja yang asli orang dieng ga pernah bosan sama pemandangan tadi. Apalagi mbak yang jarang kesini." Pak warso guide yang mendampingiku menimpali jawabanku tadi. 
"kayanya sih gitu pak". Aku dan pak warso tertawa bersama dan langsung bergegas untuk menuruni gunung sikunir.


Negeriku sayang, Negeriku malang

Friday, May 20 0 komentar
Sungguh disayangkan disaat bangsa ini sedang memperingati hari kebangkitan nasional, kongres yang diadakan PSSI untuk menentukan ketua PSSI malah sedikit ricuh dan dihujani dengan interupsi. Sampai akhirnya ketua normalisasi PSSI agum gumelar memilih untuk mengakhirinya karena suasana kongres sudah tidak kondusif lagi. Bingung kenapa di negara kita tercinta ini banyak sekali orang yang haus kekuasaan. Padahal kalo tiap orang yang mencalonkan diri sebagai ketua itu lebih legowo dan tidak memikirkan kepentingan mereka yang sangat ingin menduduki kursi pemimpin PSSI, mungkin kongres PSSI hari ini tidak akan sampai begitu. 
Kadang gue juga heran kalo ada pemilihan ketua-ketua di indonesia. Kayanya semua kandidatnya itu ga ada yang siap buat kalah. Mereka hanya mempersiapkan diri mereka untuk menang. Hasilnya udah bisa ditebak, pasangan yang kalah pasti akan ricuh-ricuh gitu.
Belum lagi keheranan gue sama para anggota dewan terhormat kita di DPR. Gue bersyukur waktu pemilihan anggota dewan waktu itu gue memilih untuk abstain. Karena, setelah hampir dua tahun mereka dipilih yang gue lihat dari mereka itu hanyalah sekumpulan orang-orang manja yang selalu menuntut. Tapi giliran rakyat yang menuntut sesuatu dari mereka pasti ada aja alesannya. Bayangin mereka pasang budget buat bangun gedung baru DPR 777 milyar. Sedangkan untuk pengentasan kemiskinan di bali aja mereka cuma ngasih 1,68 milyar. Coba dana 777 milyar itu disebar untuk mensejahterakan rakyat indonesia. Berapa wilayah yang akan terbantu dengan dana tersebut. Dana sebesar itu bisa digunakan untuk pengentasan kemiskinan dan pendidikan di daerah pedalaman. 
Makin takjub gue sama negeri tercinta gue ini. Seandainya di pemilu presiden dan legislatif 2014 nanti gue tidak melihat ada calon yang cukup baik untuk memimpin indonesia, kayanya gue lebih memilih untuk abstain. Adakah calon pemimpin negara ini yang mempunyai sifat seperti para khulafa rasyidin? gue inget sama pelajaran gue pas SMP. Waktu itu guru gue bercerita tentang seorang khalifah yang setiap malamnya dia selalu berjalan menyusuri lorong-lorong kota untuk memastikan bahwa tidak ada rakyatnya yang hidup kekurangan. Ironis banget sama pemimpin sekarang. Mereka bahkan tidak bisa mendengar jeritan dan tangisan rakyat kecil. Mereka lebih mendengarkan suara perut mereka yang tidak pernah puas dengan apa yang mereka dapat. Mungkin mereka harus mendapat pelajaran agama tambahan agar mereka bisa lebih bersyukur dengan apa yang mereka miliki dan perlahan mereka bisa mendengar suara-suara rakyat yang meminta perhatian mereka.
SELAMAT HARI KEBANGKITAN NASIONAL





Salah siapa?

Thursday, May 19 0 komentar
Setiap nonton film nagabonar jadi 2, gue selalu inget sama kata-kata nagabonar ke bonaga pas si nagabonar abis pingsan setelah acara pengibaran bendera "salahku hidup di jamanmu, jaman yang tidak kumengerti". Gue pun yang hidup di jaman sekarang ini sempet mikir "salah ga sich cewe seperti gue ini hidup di jaman seperti. Jaman dimana semua orang memuja tampilan fisik". Pria -pria lebih sekarang rata-rata kalo ditanya apa tipe cewe idaman mereka. Kata-kata yang keluar adalah cantik, putih, baik blablabla... Pokoknya semua yang menurut gue hanya jangka pendek. Cantik, seiring bertambahnya umur di wajah cantik wanita akan muncul keriput-keriput halus dan semakin lama keriput itu akan semakin banyak. Meskipun ukuran cantik itu relatif, tapi itu cukup bikin para wanita kalang kabut. Berbagai macam cara ditempuh untuk menjadi cantik. Mulai dari cara yang alami seperti rajin minum air putih sampai ke cara-cara yang cukup menyakitkan kaya face lift. Tahukah para pria itu tentang semua yang dilakukan wanita agar menarik di depan mereka?
Gue rasa mereka tahu tapi mereka berpura-pura tidak tahu. Pernahkan para pria memperhatikan kaki wanita mereka yang lecet karena memakai higheels baru. Higheels baru yang mereka beli agar mereka selalu terlihat menarik di depan pria mereka. Belum lagi wanita yang mati-matian menurutkan berat badan karena takut tidak ada pria yang akan menyukai mereka kalau mereka memiliki tubuh yang sedikit gemuk. Itu semua hanya hanya contoh kecil dari kesakitan yang bisa dirasakan wanita agar pria yang mereka cintai tetap mencintai mereka. Tapi terkadang pria dengan mudahnya meninggalkan mereka hanya karena mereka menemukan wanita lain yang jauh lebih menarik.
Ini gue tulis bukan karena apa-apa. Ini murni hanya buah pikiran dari gue ketika gue melihat sekeliling gue dan terbersit untuk menuliskannya. Belum lagi masalah sosial di indonesia yang terkadang meremehkan status seorang janda dan predikat perawan tua. Wanita lagi yang jadi korban. Setiap wanita akan merasa tertekan jika mereka menyandang predikat tersebut. Meskipun tak jarang juga yang tidak mempedulikannya. Tapi, terkadang untuk menyelamatkan muka orang tua mereka, mereka rela dinikahi dengan pria pilihan orang tua mereka. Padahal belum tentu yang menjadi pilihan orang tua itu baik untuk anaknya. Sekali lagi para wanitalah yang nantinya akan jadi korban. Bersyukur kalau ternyata pilihan orang tua mereka itu benar-benar pria yang baik luar dalam bukan cuma pria yang baik di luar saja. Kaya film wanita berkalung sorban. Hasil dari perjodohannya malah si wanita mendapatkan KDRT dan memilih untuk bercerai. Jadi seorang wanita itu harus berani memilih. Karena hidup kita itu tergantung sama pilihan kita.

Kutipan

Wednesday, May 18 0 komentar
Kemaren-kemaren iseng nyari kutipan buat motivasi diri sendiri. Ada beberapa kutipan yang gue suka. Sekarang gue mau berbagi kutipa dari para tokoh tersebut, siapa tau diantara orang-orang yang baca blog ini ada yang lagi butuh motivasi dan kutipan yang disini bisa sedikit membantu..
The smoothest way is full of stones
Jalan yang termulus adalah jalan yang penuh dengan bebatuan
(Pepatah Yiddi)

Do not go where the path may lead, go instead where there is no path and leave a trail
Jangan pergi melalui jalan yang sudah ada, buatlah jalan sendiri dan tinggalkan jejak untuk orang lain.
(Ralp Waldo Emerson)

The man who trims himself to suit everybody will soon whittle himself away
Orang yang memaksakan dirinya agar sesuai dengan semua orang, lambat laun akan mengkikis dirinya sedikit demi sedikit
(Charles Schwab)

Simplicity is the key to brilliance
Kesederhanaan adalah kunci menjadi brilian
(Bruce Lee)

It is better to be hated for what you are than to be loved for what you are not
Lebih baik dibenci karena menjadi diri sendiri daripada dicintai karena menjadi orang lain
(Andre Gide)

The better part of happiness is to wish to be what you are
Hal yang baik dari kebahagiaan adalah keinginan menjadi diri sendiri
(Desiderius Erasmus)

Imagination is more important than knowledge. Knowledge is limited. Imagination encircles the world
Imajinasi lebih penting dari pengethuan. Pengethuan bersifat terbatas. Sedangkan imajinasi melingkupi jagat raya
(Albert Einstein)

Hargailah segala yang kau miliki; anda akan memiliki lebih lagi. Jika anda fokus pada apa yang tidak anda miliki, anda tidak akan pernah merasa cukup dalam hal apapun.
Be thankful for what you have; you’ll end up having more. If you concentrate on what you don’t have, you will never, ever have enough.
 (Oprah Winfrey)

Untuk mencapai kesuksesan, kita jangan hanya bertindak, tapi juga perlu bermimpi, jangan hanya berencana, tapi juga perlu untuk percaya.
To accomplish great things, we must not only act, but also dream; not only plan, but also believe.
(Anatole France)

Dimana ada cinta, di situ ada kehidupan.
Where there is love there is life.
(Mahatma Gandhi)

Semua pengetahuan yang saya miliki, orang lain pun dapat memilikinya, tapi, hati saya, hanyalah milik saya.
All the knowledge I possess everyone else can acquire, but my heart is all my own.
(Johann Wolfgang Von Goethe)

Dan pada akhirnya, bukan berapa tahun dalam kehidupan anda yang dilihat. Tapi, kehidupan dalam tahun2 tersebut.
And in the end, it’s not the years in your life that count. It’s the life in your years.
(Abraham Lincoln)

Laughing is healthy, especially if you laugh about yourself.
Tertawa itu sehat, lebih-lebih jika mentertawakan diri sendiri.

every dark light is followed by a light morning.
Malam yang gelap selalu diikuti pagi yang tenang.

sometimes the hearts sees what is invisible the eye
(H.jackson brown Jr)