Seiring dengan terus berkembangnya teknologi informasi, berkembang pula berbagai serangan yang memanfaatkan teknologi informasi tersebut. Dunia saat ini seperti serangkaian jaring laba-laba yang terhubung melalui jaringan internet. Melalui jaringan ini pulalah dunia sekarang harus bersiap untuk era cyber war. Bahkan para peneliti di pentagon berencana meningkatkan upaya mereka untuk menciptakan senjata yang akan digunakan untuk perang cyber. Hal ini dilakukan sebagai antisipasi markas pertahanan militer AS tersebut atas bahaya ancaman digital.
"Pemerintah AS membutuhkan lebih banyak pilihan yang lebih baik untuk menjaga negara dari serangan pada jaringan komputer sistem keamanan. Karena itu kita harus berinvestasi dalam pengadaan alat baik ofensif dan defensif," kata Regina Dugan, Direktur Bidang Penelitian Pentagon, seperti dikutip detikcom dari AFP, Selasa (8/11/2011).
Penelitian DARPA menemukan fakta bahwa perangkat lunak keamanan telah tumbuh lebih banyak dan lebih kompleks selama dua dekade terakhir. Sementara berbagai virus dan serangan digital lainnya terus terjadi.
salah satu bukti penyerangan melalui media dunia yang berbahaya adalah serangan malware stuxnet pada pengayaan instalasi nuklir iran di natanz pada tahun 2009 silam.
Stuxnet mampu menyusup masuk dan menyabot sistem dengan cara memperlambat ataupun mempercepat motor penggerak, bahkan membuatnya berputar jauh di atas kecepatan maksimum. Kecepatan ini akan menghancurkan sentrifuse atau setidaknya merusak kemampuan alat itu untuk memproduksi bahan bakar uranium.
Malware paling hebat sekaligus canggih ini diakui banyak kalangan sebagai suatu bentuk serangan yang sangat cerdas. Pengakuan itu bukan datang dari sembarang orang, tapi dari kalangan industri aplikasi pengamanan terkemuka dunia seperti Symantec (Amerika Serikat), Kaspersky (Rusia), dan F-Secure (Finlandia).
Para pakar Symantec memperkirakan pengerjaan Stuxnet membutuhkan tenaga 5 hingga 30 orang dalam waktu enam bulan. Selain itu, dibutuhkan pengetahuan sistem kontrol industri dan akses terhadap sistem itu untuk melakukan pengujian kualitasnya. Sekali lagi, ini mengindikaskan bahwa Stuxnet adalah sebuah proyek yang sangat terorganisir dan dibekingi dana besar.
“Kami benar-benar belum pernah melihat worm seperti ini sebelumnya,” kata Liam O’Murchu, peneliti Symantec Security Response. “Fakta bahwa worm ini dapat mengontrol cara kerja mesin fisik tentunya sangat mengkhawatirkan.”
Hal ini menunjukkan bahwa bahwa jagat cyber kini dijadikan sebagai matra kelima selain serangan melalui darat, laut, udara dan angkasa luar.
Lalu begaimana kesiapan negara kita dalam menghadapi potensi cyber war ini?
Muhammad Salahuddien, Wakil Ketua Indonesia Security Incident Response Team on Internet Infrastructure known (Id-SIRTII) menyebutkan, perang siber di negeri ini juga bukanlah hal baru. Sebagaimana perang-perang siber lain yang mewarnai tensi politik dan hubungan antara Indonesia dengan negara-negara lainnya, Indonesia sudah mulai terlibat perang siber sejak satu dekade yang lalu--mulai dari perang siber dengan Portugal pada 1999, dengan Australia, hingga cyberwar dengan Malaysia beberapa tahun terakhir.
Akan tetapi menurut arief wicaksono yang merupakan salah satu pentolan kelompok peretas antihackerlink, menyatakan bahwa kemampuan aktivis siber di indonesia masih belum mumpuni. Karena, daya peretas suatu negara sangat ditentukan dengan infrastruktur dan tarif internet di negara tersebut. Perang siber di Indonesia masih sekedar defacing atau hanya mengubah tampilan suatu halaman web. Hal ini dilakukan hanya untuk mempermalukan tapi tidak terlalu membahayakan.Tapi, seiring dengan pertumbuhan Internet di Indonesia yang begitu cepat, dia percaya akan lebih banyak lagi infrastruktur strategis dan layanan publik yang akan semakin bergantung pada sistem informasi, teknologi, dan jaringan Internet, sehingga rentan terhadap serangan siber.
Menurut Salahuddien, kini pelanggan Internet reguler Indonesia ada sekitar 60 juta. Sekitar 90 juta pengguna ponsel juga telah mengakses Internet. Dalam dua tahun ke depan, kata Didien, diperkirakan pengguna Internet Indonesia akan mencapai sekitar 150 juta orang.
Jika sudah begitu, dia mengingatkan, “Ancaman perang informasi dan serangan cyber akan semakin meningkat dan menjadi medan pertempuran utama di masa mendatang, termasuk di Indonesia.”
sumber: vivanews dan detiknews