Isyarat

Monday, March 12 0 komentar
Hanya isyarat. Ya, itulah kata yang tepat untuk menggambarkan semuanya. Seperti kisah yang ditulis dee dalam kumpulan 11 cerpennya, Rectoverso. Hanya isyarat yang mampu kusampaikan jika pagi menjelang. Aku selalu menantikan pagi. Pagi berarti aku sudah melewati lagi 1 hari didalam hidupku dan pagi datang dengan membawa harapan yang baru. Pagi juga membawaku pada pertemuan itu. Pertemuan yang tidak disengaja tapi berlangsung seperti sudah diatur. Kita tidak saling mengenal, namum alam selalu mempertemukan kita. Bertemu di tempat yang sama dalam posisi yang nyaris sama hampir setiap hari. Apakah kamu menyadarinya?
Hanya isyarat. Cinta sebatas punggung. Hanya dengan menatap punggungmu yang berjalan jauh didepanku, aku bisa merasakan energi baru untuk melalui hari ini. Aku bisa merasakan ada detak tak beraturan di dalam jantungku jika kita berdiri bersisian.
"... Aku sampai di bagian bahwa aku telah jatuh cinta. Namun orang itu hanya dapat kugapai sebatas punggungnya saja. Seseorang yang hadir sekelebat bagai bintang jatuh yang lenyap keluar dari bingkai mata sebelum tangan ini sanggup mengejar. Seseorang yang hanya bisa kukirimi isyarat sehalus udara, langit, awan, atau hujan."
Kutipan dari kisah hanya isyarat ini begitu melekat padaku. Seseorang yang hanya mampu ku gapai sebatas punggungnya. Aku tidak tahu skenario apa yang sedang dijalankan sang sutradara terbaik di semesta ini. Yang kutahu hanya aku bisa merasakanmu. Itu sudah cukup. Kurang dari 2 jam di setiap pagiku aku bisa menatap punggungmu lama dan aku mendapat cukup energi untuk melalui hari ini. Hanya satu kata yang ingin kuucapkan untukmu "Hello" dan itu sudah lebih dari cukup, sayangnya aku belum punya daya untuk sekedar mengucapkan kata itu.
"I used to hide and watch you from a distance and i knew you realized
I was looking for a time to get closer at least to say... “hello” "
-endah and rhesa: when you love someone-
Hanya isyarat, ketika kata tak sanggup terucap, aku hanya bisa mengirimkan semua isyarat ini melalui semesta. Rasakanlah seperti aku bisa merasakan adanya dirimu.

me vs google maps

Wednesday, January 4 0 komentar

Kemaren gue abis baca buku barunya raditya dika yang judulnya manusia setengah salmon. Pas nemu bab di bukunya yang menceritakan si raditya dika bersama adik-adiknya nyasar di venice gara-gara google maps mati, gue jadi inget sama pengalaman gue yang bergantung nyari jalan pake google maps dan gue sukses nyasar gara-gara ditengah jalan koneksinya mati. Nah pengalaman di raditya dika masih sedikit elit gitu yah, kesasar di venice, yang notabene emang kota dengan banyak gang. Nah, gue kesasarnya di TB simatupang. Kurang elit gimana itu nyasar di TB simatupanng gara-gara google maps mati koneksinya..
Kejadian ini bermula ketika gue dan kedua temen gue (sebut saja mawar dan melati) harus ngejar dosen buat ngumpulin tugas. Batas waktu buat ngumpulin tugas jam 7 dan kita bertiga harus ngejar dia ke TB simatupang. Dan harus gue akui biang keladi dari kejadian nyasar ini adalah gue juga. Soalnya gue keukeuh ngikutin jalan yang ditunjukin sama google maps. Padahal bokapnya melati iudah nunjukin jalan yang baik dan benar buat sampe kesana. Ya benar gue ini emang biangnya nyasar. Tiap gue pergi sama siapa aja pasti nyasar. Mau di dalam kota maupun luar kota gue selalu kesasar.

Gara-gara nyasar ini gue dan mawar melati jadi muter-muter naek busway keliling dari kampung melayu turun di  harmoni dan ujung-ujungnya berakhir di dukuh atas kemudia naik busway arah ragunan dan turun di halte busway deptan. Udah sampe di depan deptan kita bertiga nanya ke petugas busway kalo mau ke graha simatupang naek angkot apaan. Petugas busway ngasih tau kalo naek angkot harus jalan sedikit dari situ. Kita ikuti saran dari petugas tersebut. Setelah sampe, banyak angkot disitu tapi kita ga tau angkot apaan yang lewat depan graha siamtupang. Akhirnya kita putuskan naek taksi. Emang dasar sial ato gimana si supir taksi ini ga tau jalan (oh.my.god) dan kita akhirnya ngandelin google maps lagi. Dan sekali lagi internet mati dan kita sukses muter-muter sampe 3 kali buat nyari dimana graha simatupang. Untungnya bukan sampe 3 kali puasa kita nemuin graha siamtupangnya (bang toyib kali ah). Setelah muter yang ketiga kalinya google maps kembali menyala dan akhirnya tibalah kita di graha simatupang untuk menyerahkan tugas kuliah. Selesai ngasih tugas ke dosen kita bertiga meratap. Perjalanan muter-muter yang diwarnai dengan nyasar berakhir cuma buat ngasih tugas yang ga lebih dari 5 menit.
Mungkin pengalaman nyasar gue yang agak elit adalah nyasar di simpang lima semarang. Sekali lagi nyasar ini diakibatkan oleh google maps yang koneksinya mati di tengah jalan. Niat awalnya gue sama kakak sepupu gue mau ngebolang dari hotel ke simpang lima jalan kaki. Karena kata orang hotel, dari hotel ke simpang ga jauh. Terpengaruh deh tuh. Karena baru pertama kalinya ke semarang, akhirnya kita mengandalkan google maps sebagai penunjuk arah. Tipikal jalan di semarang kan juga banyak perempatan, jadinya pas google maps mati kita ngandelin feeling buat sampe ke simpang lima. Sampe akhirnya nyampe entah dimana dan udah lumayan jauh berjalan, baru sadar kalo nyasar (agak telat sadarnya). Setelah tanya sana-sini dengan logat jawa yang dibuat akhirnya sampe juga di simpang lima. Kalo kebanyakan pelancong bakal nyari tempat yang unik kalo lagi liburan di luar kota. Gue dan kakak sepupu tergolong ajaib dan kurang kerjaan pas ke semarang, karena kita ga tau mau ngapain disemarang. Akhirnya nyampe di simpang lima, makan di emperan yang nyediain makanan-makanan khas semarang dan abis itu langsung nyebrang ke mal citra cuma buat nonton film MERANTAU. Untungnya pas hari pertama aja kelakukan kaya gitu. Hari berikutnya beneran maen ke ikonnya semarang yaitu lawang sewu. Bikin jiper disini apalagi kakak sepupu gue termasuk orang yang bisa "lihat" makhluk yang ga terlihat sama kita. Dan sialnya gue diceritain dia ngeliat  apa aja disana.
Sekian lah pengalaman nyasar gara-gara google maps mati ditengah jalan.